Repons Bupati Tapsel Soal Banjir Bandang Batangtoru, Akui Garoga dan Huta Godang Jadi Desa Paling Parah Terdampak
Koran Depok – Repons Bupati Tapsel Banjir bandang yang melanda wilayah Batangtoru, Tapanuli Selatan, menyisakan kerusakan berat di sejumlah desa. Bupati Tapanuli Selatan akhirnya angkat bicara dan mengakui bahwa Desa Garoga dan Desa Huta Godang menjadi kawasan yang paling parah terdampak dalam bencana yang terjadi akibat hujan lebat berkepanjangan tersebut.
Air bah yang datang tiba-tiba pada malam hari menghantam permukiman warga, merusak rumah, fasilitas umum, serta menyapu bersih lahan pertanian. Peristiwa ini membuat ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat aman.
“Dampaknya Paling Berat Ada di Garoga dan Huta Godang”
Dalam kunjungan lapangannya, Bupati Tapsel menyebut kondisi di dua desa itu memerlukan penanganan khusus karena skala kerusakannya jauh lebih besar dibanding desa lainnya.
“Kami melihat langsung bahwa Garoga dan Huta Godang merupakan titik terparah. Banyak rumah yang rata dengan tanah dan infrastruktur rusak parah,” ujarnya.
Menurut data awal, puluhan rumah rusak berat, jembatan desa tidak dapat dilalui, dan akses menuju permukiman masih tertutup lumpur tebal serta material kayu dari hulu sungai.
Baca Juga: Landen Marbun Kritik Pertamina SPBU Ditutup, Korban Banjir tak Bisa Isi BBM!
Repons Bupati Tapsel Akses Terputus, Evakuasi Berjalan Lambat
Tim gabungan BPBD, TNI, dan Polri berupaya melakukan evakuasi serta pembersihan jalur, namun medan sulit membuat proses berjalan lambat. Beberapa lokasi hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki akibat jembatan dan badan jalan yang putus.
“Hulu sungai membawa material sangat banyak. Banyak titik longsor kecil yang membuat mobil dan alat berat tidak bisa langsung masuk,” kata seorang relawan.
Warga yang terisolasi sementara mendapatkan bantuan melalui jalur darat alternatif dan penyaluran logistik menggunakan sepeda motor trail.
Bupati Instruksikan Penanganan Darurat 24 Jam
Menyikapi situasi tersebut, Bupati Tapsel menginstruksikan agar posko siaga banjir bandang beroperasi 24 jam. Tenaga medis tambahan dikerahkan ke titik pengungsian, sementara dapur umum mulai dibuka di sekitar kantor desa.
“Prioritas kami adalah keselamatan warga. Setelah itu baru kita fokus pada pendataan dan pemulihan infrastruktur,” ujarnya.
Pemerintah daerah juga mengajukan permintaan dukungan ke provinsi dan BNPB untuk mempercepat pengiriman alat berat dan bantuan logistik tambahan.
Warga Mulai Bertahan di Tempat Pengungsian
Ratusan warga kini tinggal sementara di balai desa, sekolah, dan rumah ibadah. Beberapa dari mereka masih trauma dengan derasnya air yang menghanyutkan harta benda mereka dalam hitungan menit.
“Kami tidak sempat menyelamatkan apa pun. Air sangat cepat naik, kami hanya bisa lari,” kata seorang warga Garoga.
Kondisi cuaca yang masih tidak stabil membuat warga diminta tetap siaga terhadap kemungkinan banjir susulan.
Evaluasi Tata Ruang dan Rehabilitasi Sungai Menjadi Sorotan
Bencana ini mendorong pemerintah membuka pembahasan mengenai perlunya penataan ulang kawasan bantaran sungai dan evaluasi aktivitas di hulu. Beberapa bagian sungai diduga mengalami pendangkalan sehingga tidak mampu menampung debit air dari curah hujan ekstrem.












