Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

PGRI Purworejo Keluhkan Hak Libur Guru, Makin Sulit Libur jika 6 Hari Sekolah Diterapkan

PGRI Purworejo Keluhkan
Skintific

PGRI Purworejo Keluhkan Hak Libur Guru: Sistem 6 Hari Sekolah Dinilai Membuat Guru Semakin Sulit Beristirahat

Koran Depok – PGRI Purworejo Keluhkan Rencana penerapan enam hari sekolah kembali menimbulkan polemik di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Purworejo menyampaikan keberatan atas kebijakan tersebut karena dinilai memperberat beban kerja guru dan mengurangi hak libur yang idealnya digunakan untuk pemulihan kondisi fisik maupun mental.

Sejumlah perwakilan PGRI menegaskan bahwa guru telah memiliki beban tugas yang padat, bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga mengerjakan administrasi, penilaian, pendampingan kegiatan siswa, hingga tugas-tugas sekolah lainnya. Dengan masuk selama enam hari penuh, waktu pemulihan dan ruang personal guru semakin menyempit.

Skintific

PGRI Purworejo Keluhkan Beban Kerja Guru Dinilai Sudah Tinggi

PGRI Purworejo menilai bahwa beban kerja guru saat ini sudah melampaui batas ideal untuk menjaga kualitas pembelajaran. Selain jam mengajar, guru masih dibebani:

penyusunan RPP dan perangkat pembelajaran,

penilaian harian, remedial, serta pengisian rapor digital,

pendampingan ekstrakurikuler,

pengelolaan administrasi kurikulum,

komunikasi intensif dengan orang tua siswa.

Dengan intensitas tugas tersebut, guru membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar tetap produktif dan mampu memberikan layanan pendidikan terbaik.RRI.co.id - Bupati Pati Sudewo Resmikan Regrouping Sekolah Dasar Negeri


Baca Juga: Bernardo Tavares Dikaitkan Persebaya, Jago Bentuk Karakter dan Tempa Pemain Muda

Hak Cuti dan Libur Guru Terancam Terpangkas

Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah berkurangnya waktu libur mingguan. Jika selama ini guru mendapatkan waktu istirahat dua hari, kebijakan baru membuat mereka hanya berlibur satu hari, yakni pada hari Minggu.

Padahal, hari libur tersebut tidak sekadar waktu santai. Banyak guru memanfaatkan hari libur untuk:

mengikuti pelatihan mandiri,

menyelesaikan administrasi dan laporan sekolah,

mengurus keluarga dan keperluan domestik,

istirahat dari aktivitas fisik dan tekanan pekerjaan.

PGRI menilai bahwa dengan hilangnya satu hari libur, guru akan kehilangan kesempatan untuk memulihkan energi, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pembelajaran.


Risiko Burnout yang Semakin Tinggi

Kekhawatiran lain adalah meningkatnya risiko burnout di kalangan guru. Burnout dapat menurunkan semangat mengajar, mengurangi kreativitas dalam menyampaikan materi, bahkan dapat memicu masalah kesehatan jangka panjang.

Beberapa studi pendidikan menunjukkan bahwa guru yang memiliki waktu istirahat seimbang jauh lebih efektif dalam mengajar, lebih baik dalam manajemen kelas, dan lebih kreatif dalam membuat metode pembelajaran. Karena itu, pengurangan waktu istirahat justru berpotensi memberi dampak negatif bagi siswa.


PGRI Purworejo Keluhkan Dampak bagi Keluarga Guru

Selain berdampak pada karier, PGRI juga menyoroti dampak kebijakan ini terhadap kehidupan keluarga guru. Banyak guru yang memiliki tanggung jawab domestik, terutama mereka yang sudah berkeluarga.

Waktu kebersamaan dengan keluarga dapat berkurang drastis, terutama bagi guru yang mengajar di daerah pedesaan dan harus menempuh perjalanan jauh dari rumah ke tempat kerja. Dengan masuk enam hari, waktu berkualitas bersama keluarga otomatis menyempit.


PGRI Dorong Evaluasi dan Dialog Terbuka

PGRI Purworejo meminta pemerintah melakukan kajian mendalam sebelum menerapkan kebijakan ini secara masif.


Harapan Guru: Kebijakan yang Lebih Manusiawi

Para guru berharap agar pemerintah mempertimbangkan pendekatan yang lebih manusiawi dalam menyusun aturan pendidikan.


Kesimpulan

Kontroversi penerapan sistem sekolah enam hari menunjukkan pentingnya keseimbangan antara tuntutan profesional dan hak-hak guru sebagai manusia. PGRI Purworejo menilai bahwa kebijakan tersebut berpotensi mengurangi hak libur guru, memperberat beban kerja, serta meningkatkan risiko kelelahan dan burnout.

Skintific