Presiden Suriah Bisa Bertemu Presiden AS Setelah Dihapus dari Daftar “Teroris”
Koran Depok — Presiden Suriah Bisa Bertemu yang kini memimpin Suriah setelah kejatuhan rezim Bashar al‑Assad — akan mengunjungi Gedung Putih untuk bertemu dengan Donald Trump,
Keputusan ini menandai perubahan kebijakan AS terhadap Suriah dan membuka pintu bagi normalisasi diplomatik antara kedua negara setelah bertahun-tahun ketegangan.
Kronologi Singkat
Pada November 2025, PBB melalui Dewan Keamanan menghapus sanksi terhadap al-Sharaa dan menteri-nya
Satu hari setelah penghapusan tersebut, al-Sharaa tiba di Washington D.C. untuk kunjungan resmi menuju pertemuan di Gedung Putih pada 10 November 2025.
Baca Juga: Tambang Ilegal 315 Hektar di Bangka Tengah Ditertibkan, Potensi Kerugian Negara Rp 12,9 T
Presiden Suriah Bisa Bertemu Alasan dan Pertimbangan
Beberapa faktor utama yang mendorong langkah ini antara lain:
Keputusan semacam ini juga berfungsi sebagai sinyal politik bahwa Suriah “masuk era baru” setelah rezim Assad usai.
Tantangan & Kritik
Presiden Suriah Bisa Bertemu Implikasi Diplomatik & Geopolitik
Pertemuan di Gedung Putih antara Trump dan al-Sharaa akan memiliki dampak besar:
Memberi jalan bagi normalisasi hubungan AS-Suriah, termasuk penghapusan sanksi ekonomi dan pembukaan kembali investasi serta bantuan rekontruksi.
Kesimpulan
Namun, perjalanan menuju rekonsiliasi penuh, pemulihan Suriah, dan pengembalian ke tatanan internasional bukan tanpa hambatan.
Presiden Suriah Bisa Bertemu Mengapa AS Mengubah Sikapnya?
Beberapa faktor yang memicu perubahan kebijakan ini:
AS memandang bahwa keterlibatan Suriah dalam aliansi internasional, termasuk koalisi melawan kelompok ekstremis, menjadi landasan diplomasi baru.
Para analis menyebut langkah ini sebagai bagian dari “era baru” dalam hubungan AS‑Suriah dan upaya untuk menormalkan posisi Suriah di arena internasional.
Tantangan dan Keraguan
Israel dan beberapa sekutu AS sebelumnya menolak normalisasi hubungan dengan Suriah tanpa jaminan keamanan yang kuat.
Pembukaan pintu bagi Suriah untuk mendapatkan investasi asing dan rekonstruksi pasca‑konflik.
Potensi Suriah bergabung sebagai mitra aktif dalam koalisi internasional melawan ekstremisme.
Pergeseran geopolitik di Timur Tengah, termasuk pengaruh Rusia, Turki, dan negara‑Gulf dalam pembentukan tatanan baru.












